Soroako – Masih dengan semangat membedah Kurikulum Merdeka Belajar, Senin (14/3/2022) Webinar Internal Sekolah Umum YPS kembali digelar dengan tajuk Merdeka Belajar, dibawakan langsung oleh Ketua Yayasan Guru Belajar, Budi Setiawan, M.Psi, yang kerap disapa Pak Bukik.
Seperti pada webinar sebelumnya, webinar internal jilid 2 ini juga diikuti oleh seluruh guru di lingkungan Sekolah Umum Yayasan Pendidikan Soroako. Seluruh guru mengikuti jalannya webinar melalui ruang rapat unit masing-masing. Didapuk sebagai pemateri tunggal pada webinar ini adalah Bapak Bukik Setiawan, M.Psi, Ketua Yayasan Guru Belajar.
Di awal materinya, Bukik menjelaskan tiga hal yang melatarbelakangi lahirnya kurikulum merdeka, yaitu (1) Peraturan Pendidikan selama ini umumnya bersifat kaku dan mengikat, contoh: aturan terkait UN, aturan RPP, aturan penggunaan dana BOS dan lainnya. Peraturan tersebut terbukti tidak efektif untuk mencapai tujuan nasional Pendidikan; (2) Ketidakefektifan pencapaian tujuan nasional Pendidikan terlihat pada hasil belajar siswa di komparasi test internasional (contoh: PISA) yang menunjukkan siswa-siswi kita masih lemah dalam aspek penelaran tingkat tinggi khususnya dalam hal literasi dan numerasi; (3) Kebijakan Merdeka Belajar yang tidak bersifat kaku dan mengikat (fleksibel) diharapkan dapat mengatasi keragaman kondisi, tantangan dan permasalahan Pendidikan yang berbeda antar sekolah, dengan strategi penyelesaian yang berbeda.
Lebih lanjut Bukik menguraikan bahwa kurikulum merdeka memiliki beberapa karakteristik, yaitu (1) Pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter, (2) fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, (3) Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid.
“Kelebihan kurikulum merdeka adalah tidak ada KKM, tidak ada penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang ada adalah penilaian capaian pembelajaran (CP). Selain itu, kurikulum merdeka belajar memberikan kebebasan kepada guru untuk menyusun sendiri perangkat pembelajaran. Guru bisa mengatur sendiri proses belajar di sekolah.” Jelas Bukik.
Satuan pendidikan dapat memilih tiga opsi dalam mengimplementasikan Kurikulum. Pertama, menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan. Kedua, menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan. Ketiga, menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar.
Pak Bukik menekankan bahwa kunci Merdeka Belajar ada 2, yaitu Pilihan dan Pelibatan. Melibatkan murid dalam menentukan tujuan pembelajaran, memberikan pilihan apa yang ingin dipelajari. Pelibatan menyenangkan bagi anak karena anak merasa dianggap sebagai manusia yang setara yang punya aspirasi. Merasa dilibatkan membuat anak merasa dimanusiakan dan menumbuhkan rasa berdaya. Memberikan pilihan bukan berarti memberi kebebasan tapi membuat anak dapat memilih, kemampuan untuk menentukan pilihan sederhana juga akan meningkatkan kepercayaan diri anak, self efficacy, lebih berani berinisiatif, dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Melibatkan murid dan memberikan pilihan pada murid, adalah hal yang dapat langsung kita terapkan di kelas kita sekarang juga.
Dalam Merdeka Belajar, guru dan sekolah fokus pada kompetensi yang esensial dalam capaian pembelajaran. Hal ini dikarenakan saat kompetensi esensial sudah tercapai, anak akan punya kapasitas untuk mempelajari pengetahuan yang lain. Guru menjabarkan capaian pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran dengan memasukkan aspek kebutuhan anak dan konteks lokal. Ini adalah ruang gerak guru, untuk teaching at the right level. Meski proses beragam, tujuannya sama, menghasilkan lulusan dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang sekarang tengah digodok oleh tim di Kemdikbud. Bagi sekolah yang mendaftar untuk menerapkan Kurikulum Merdeka, akan ada survey per 3 bulan, untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan tambahannya apa saja,.
Agar penerapan Merdeka belajar bisa berjalan sukses, Pihak Yayasan dan Kepala Sekolah perlu memahami kebutuhan guru-gurunya, memahami apa yang masih kurang dan apa yang perlu dikembangkan, dan selanjutnya melakukan perencanaan berbasis data. Data-data hasil Asesmen Nasional menjadi justifikasi perencanaan program berbasis data, agar semua energi dan biaya yang dikeluarkan berdampak sebesar-besarnya pada peningkatan pembelajaran. Dan ujung tombaknya adalah guru yang mau terus bergerak, mau belajar, dan mau berubah,” pungkas Pak Bukik yang memiliki keyakinan penuh akan kapasitas para guru di Yayasan Pendidikan Sorowako. Belajar adalah cara kita untuk menyelesaikan masalah dengan mengetahui cara yang paling tepat dan enjoy dalam melaksanakan tugas kita.