Thursday, 22 Oct 2026
  • Yayasan Pendidikan Sorowako (YPS) adalah sebuah yayasan yang didirikan oleh PT. Vale Indonesia Tbk.

Webinar Mitigasi dan Kesiagaan Bencana: PT. Vale Gandeng Pemkab Luwu Timur dan YPS Bangun Budaya Siaga Bencana

Sorowako-Berdasarkan indeks risiko bencana Provinsi Sulawesi Selatan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2020, Kabupaten Luwu Timur memiliki nilai indeks risiko bencana tertinggi kedua di Sulawesi Selatan setelah kota Palopo.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Timur, hingga Desember tahun 2021 ini, ada 168 kali terjadi gempa di Luwu Timur. Belum lagi bencana lainnya, seperti tanah longsor, banjir, dan angin kencang.

Saat ini, Kemdikbud bekerjasama dengan BNPB tengah melakukan pemetaan sekolah yang berlokasi di daerah rawan bencana. Dari hasil pemetaan tersebut, 250.000 sekolah SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA, dan SMK berada di lokasi rawan bencana atau 75% dari seluruh sekolah di Indonesia.

Khusus untuk wilayah Luwu Timur, jumlah satuan pendidikan di wilayah risiko bencana sedang dan tinggi meliputi banjir bandang 7 sekolah, banjir 185 sekolah, gempa bumi 230 sekolah, dan tanah longsor 20 sekolah. 

Berdasarkan kondisi tersebut, sebagai upaya meningkatkan budaya siaga dan aman menuju sekolah tangguh bencana, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) mengadakan webinar Mitigasi dan Kesiagaan Bencana secara hybrid di Malili, Selasa, 21 Desember 2021.

Dalam sambutannya secara virtual, Wakil Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Adriansyah Caniago, mengatakan bahwa PT. Vale memegang teguh nilai-nilai perusahaan, yaitu “kehidupan adalah sesuatu yang terpenting”. 

Adriansyah Caniago menuturkan bahwa PT Vale memiliki kebijakan keselamatan kesehatan dan lingkungan kerja, serta kebijakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) untuk membina masyarakat dalam melakukan mitigasi dan kesiagaan bencana.

“Melalui webinar ini, diharapkan akan terbangun komitmen dan kolaborasi bersama antarlintas sektor. Serta tersedia rekomendasi dan rencana tindak lanjut pengembangan sekolah tangguh bencana”, ungkapnya.

Webinar ini juga menghadirkan Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin sebagai pematari. Pada kesempatan ini, Prof. Adi menyampaikan materi “Menggagas Kurikulum Bencana untuk Peningkatan Literasi Bencana Menuju Luwu Timur sebagai Kabupaten Tangguh Bencana.

Prof. Adi mengingatkan, sebagai daerah yang memiliki patahan paling aktif di Indonesia, yakni patahan Matano, masyarakat Luwu Timur perlu untuk melakukan mitigasi. Salah satunya adalah meningkatkan Indeks Ketahanan Daerah. Ketika Indeks ketahanan daerah ditingkatkan, maka indeks risiko bencana akan turun.

Selain itu, Prof. Adi menekankan pentingnya peningkatan literasi bencana bagi masyarakat, terutama bagi peserta didik yang berada di zona rawan bencana. Melalui Literasi bencana masyarakat akan memiliki kemampuan untuk membaca, mengetahui  dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan dan mengikuti petunjuk dalam tahap bencana, yaitu tahap mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan ketika terjadi suatu bencana.

“Pendidikan atau Kurikulum Kebencanaan seharusnya sudah terakomodir di dalam kurikulum yang saat ini digunakan, yaitu Kurikulum 2013 (Pendidikan Dasar – Menengah). Namun, ada beberapa kendala sehingga kurikulum ini tidak berjalan dengan baik, di antaranya adalah sosialisasi yang kurang masif, kurangnya tenaga pengajar, ketersediaan bahan ajar yang terbatas, dan lemahnya kebijakan,” kata Prof. Adi.

Webinar yang diikuti oleh 650 orang peserta ini menghasilkan rekomendasi dan tindak lanjut yang dirumuskan ke dalam empat poin penting, yaitu (1) membangun komitmen bersama lintas sektor dalam pengembangan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB); (2) meningkatkan literasi bencana di tingkat dasar, fungsional, komunikatif, dan kritis; (3) mendorong program mitigasi dan kesiagaan bencana dalam penyusunan program PPM PT. Vale melalui Pengembangan Kawasan Perdesaan Mandiri dan Bantuan Dana Desa Kabupaten Luwu Timur (APBDes); dan (4) mewujudkan indikator kunci minimal dalam Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Terkait implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), YPS telah menginisiasi program Membangun Budaya Siaga Bencana dan Aman menuju Sekolah Tangguh Bencana. YPS berkomitmen menjadi sekolah percontohan Sekolah Tangguh Bencana di Luwu Timur.

KELUAR