Thursday, 22 Oct 2026
  • Yayasan Pendidikan Sorowako (YPS) adalah sebuah yayasan yang didirikan oleh PT. Vale Indonesia Tbk.

PENTINGNYA MEMBERIKAN CPR PADA KASUS HENTI JANTUNG DAN PENANGANAN KONDISI GAWAT DARURAT LAINNYA


Saya Aman, Anda Aman, Semua Aman… 321, Shot!
Training bersama HSOR Department untuk Guru dan Pegawai Sekum YPS pekan lalu berlanjut dengan Pelatihan First Aid (Competency Building). Pada hari Jumat, 21 Oktober 2022 bertempat di Hall Pepumpua, pagi hingga siang hari diisi dengan teori Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat dan dilanjutkan dengan praktik hingga sore hari. Agar intensif, sesi praktik berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil secara bergiliran di hari Sabtu, 22 Oktober 2022. Kali ini kami akan menguraikan materi secara lengkap agar dapat menjadi rujukan bagi kita semua dalam menghadapi keadaan gawat darurat.


Mengawali pelatihan, Bapak Fachmy Amier Baso dari PT Vale tbk. dan Ibu Sulhaeni, Dirsekum YPS, menyampaikan sambutannya. Materi dibawakan oleh Ibu Elfrida Tappang bersama Bapak Rusmin dan tim, dengan membuka fakta bahwa 75-85% kasus henti jantung atau cardiac arrest terjadi di rumah dan area umum. Penanganannya berpacu dengan waktu, karena itu semakin banyak orang mampu melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru), diharapkan dapat menolong lebih banyak korban.


Pada prinsipnya, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) adalah penanganan pertama terhadap orang yang sakit atau terluka yang memerlukan penanganan medis dasar. Jangan salah, medis dasar merupakan tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang bisa dimiliki oleh paramedis dan juga orang awam yang terlatih secara khusus, contohnya para guru dan pegawai YPS sebagai ikhtiar agar dapat memberikan pertolongan dalam keadaan gawat darurat. Yang perlu diperhatikan, tujuan PPGD ini untuk mencegah agar orang yang ditolong keadaannya tidak menjadi parah, mengurangi resiko kematian, dan mencegah terjadinya kecacatan.


Sebagai catatan penting, untuk korban trauma fisik semisal akibat benturan keras atau terjatuh dari ketinggian, korban tidak boleh dipindahkan, sebab kita harus berhati-hati terhadap kemungkinan cedera tulang belakang dan tulang leher. Tunggulah bantuan paramedis datang untuk memindahkannya.
Untuk dapat memberikan pertolong yang tepat, kita perlu memahami sistem pernapasan manusia dan sistem peredaran darah manusia. Jantung merupakan organ vital yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh, mengangkut sisa-sisa metabolisme dari seluruh tubuh, dan mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Jika otak manusia tidak mendapatkan suplai oksigen dalam 3-8 menit, akibatnya bisa sangat fatal. Karena itu pertolongan dalam kasus henti jantung harus diberikan secepat mungkin.


Bila seseorang masuk dalam kondisi gawat darurat medis, maka Rantai Keselamatan atau Chain of Survival harus lengkap. Rantai keselamatan adalah sebuah sistem dalam penanganan gawat darurat yang terdiri dari 6 rantai keselamatan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu hilang, korban bisa tidak selamat.


Apa sajakah chain of survival yang terdiri dari 6 hal ini? (1) Akses dini, yaitu mencari bantuan; (2) Memberikan bantuan hidup dasar dini dengan melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) atau kompresi dada yang dikenal juga sebagai RJP (Resusitasi Jantung Paru), yaitu dengan mengambil alih fungsi jantung dan paru; dan (3) Memberikan kejut jantung dini menggunakan AED (Automatic External Defibrillator). Ketiganya adalah bagian dari PPGD yang memerlukan peran saksi terlatih. Rantai keselamatan yang keempat adalah (4) Bantuan hidup lanjut dini oleh tenaga klinis terlatih di tempat kejadian; (5) Penanganan/perawatan pasca resusitasi yang dilakukan di fasilitas kesehatan; dan (6) Masa pemulihan setelah masa perawatan.
Dalam sesi teori dan praktik langsung, seluruh peserta pelatihan harus melakukan praktik simulasi dalam memberikan bantuan hidup dasar dengan urutan yang tepat, yaitu:
Pertama, Pastikan Aman
Dalam keadaan bahaya, yang pertama harus dilakukan adalah Pastikan Aman. Sebelum memberikan pertolongan pastikan kondisi AMAN untuk diri sendiri, aman untuk korban, dan juga aman untuk orang lain dan lingkungan sekitar. Penolong harus menggunakan APD, Alat Pelindung Diri selama masa Pandemi Covid-19
Kedua, Periksa Kesadaran
Kenali kondisi korban (recognize). Periksa kesadaran korban dengan cara memanggil namanya, menepuk bahu, dan beri rangsang nyeri dengan mencubit bahu.


Ketiga, Panggil Bantuan
Jika korban tidak sadar, segera panggil bantuan dengan cara berteriak, menelepon nomor keadaan darurat di Ext. 9999 atau nomor 021-5259999, atau 0475-3329999, atau 0811424888. Informasikan nama penelepon, lokasi dan jenis kejadian, serta jumlah dan kondisi korban. Untuk panggilan radio, di Radio Chanel 1 (Chanel Emergency).
Keempat, Periksa Pernapasan
Sambil menunggu bantuan datang, periksa pernapasan korban dengan melihat pengembangan dada dan perut. Penolong bisa meletakan tangan di perut dan mengamati sekitar 5-10 detik atau sekitar 10 hitungan. Sebelum memberikan pertolongan, tutupi mulut dan hidung pasien menggunakan masker atau kain untuk mencegah penularan Covid-19.


Kelima, Kompresi Dada (Chest Compression)
Jika korban tidak bernapas atau napasnya megap-megap (tidak sadar dan tidak bernapas, mengalami henti jantung), lakukan kompresi dada atau CPR. CPR dilakukan dengan tujuan mengambil alih fungsi jantung dan paru untuk mendistribusikan darah dan oksigen ke seluruh tubuh, terutama otak.
Perhatikan Teknik Melakukan CPR. Penting bagi kita untuk menguasai teknik melakukan CPR dengan tepat dan benar, yaitu berlutut di samping korban dengan bertumpu pada kedua lutut. Kemudian meletakkan kedua telapak tangan bertumpu pada satu titik di separuh atau setengah bagian bawah tulang dada Kedua tangan harus lurus dan tegak lurus terhadap tubuh korban. Kecepatan kompresi sekitar 100-120 kali/menit. Kedalaman kompresi 5-6 cm. Biarkan dada berkembang sempurna sebelum penekanan berikutnya. Minimalkan interupsi terhadap kompresi. Jadi, kompresi dada harus dilakukan secara kontinyu selama 2 menit, jika kurang tidak ada impactnya. Kalau ada interupsi, hanya boleh singkat, kurang dari 10 hitungan. Periksa napas setiap setelah + 2 menit untuk evaluasi. Penting untuk diperhatikan, posisi telapak tangan harus tepat di tengah dada. Jika salah, bisa beresiko patah tulang iga, dan jika kompresi dada terlalu dalam juga beresiko terjadi patah tulang iga. Karena itu tumpuan berada pada bantalan telapak tangan, dan khusus pada anak-anak 1-8 tahun menggunakan 1 tangan, dan pada bayi menggunakan 2 jari atau ibu jari.


Kelima, AED (Automatic External Defibrillator)
Sambil menunggu alat kejut jantung dini AED (Automatic External Defibrillator), tetap lakukan prosedur CPR. Untuk menggunakan AED, buka penutup kotak AED, maka AED otomatis akan on. Jika belum on, tekan tombol “ON” (warna hijau) untuk menghidupkan. Pastikan kabel pad terhubung pada mesin. Jika belum, segera hubungkan lalu bukalah pad dari bungkusnya. Lepaskan pad perlahan-lahan dari tempatnya, jangan sampai rusak, kemudian tempelkan pad sesuai gambar, yaitu di dada kanan atas dan di bawah dada kiri. Pastikan permukaan dada kering dan pad menempel dengan sempurna. Jangan sampai posisi pad tertukar, lihat petunjuk yang tertera pada masing-masing pad. Setelah terpasang jangan sentuh pasien saat mesin menganalisa irama jantung. Mesin akan memberikan instruksi suara. Setelah mesin menganalisa irama jantung, jika ada indikasi, tombol shock (lampu orange) akan menyala. Sebelum menekan tombol shock, berikan peringatan keselamatan: “I am clear, you are clear, everybody’s clear” (Saya aman, anda aman, semua aman). Sambil memperhatikan diri sendiri dan orang lain, tidak ada yang menyentuh korban, hitung 3..2..1.. dan tekan tombol shock kemudian lakukan CPR. Jika mesin tidak memberikan instruksi shock setelah menganalisa irama jantung (tombol shock TIDAK menyala), tidak perlu menekan tombol shock dan lanjutkan kompresi dada selama 2 menit. Jadi siklus pertolongan adalah melakukan CPR selama 2 menit, lalu melakukan analisa dengan alat AED dan menunggu instruksi alat. Jika diperintahkan, lakukan shock dan CPR segera. Jika tidak ada AED maka lanjutkan CPR selama + 2 menit dan evaluasi. Periksa napas setiap setelah + 2 menit. Lakukan CPR bergantian dengan penolong lain sampai bantuan tiba. Hentikan CPR jika korban sudah bernapas spontan atau penolong kelelahan.


Berdasarkan Guideline American Heart Association (AHA) 2020, alur proses jika pasien tidak sadar, tidak ada napas atau napas tidak normal (napas megap-megap), segera aktifkan sistem emergency dan lakukan RJP sambil penolong lain mencari defibrilator (AED). RJP dilakukan dengan tekan kuat dan tekan cepat. Setelah terpasang alat defibrilator segera periksa irama jantung atau shock jika ada indikasi. Ulangi setiap 2 menit.


Selanjutnya adalah Posisi Pemulihan (Recovery Position) yang bertujuan untuk mempertahankan jalan napas tetap bersih dari benda asing. Korban diletakkan pada posisi pemulihan jika pernapasan sudah spontan dan normal. Dengan catatan, korban tidak dicurigai mengalami cedera leher (bukan korban kecelakaan). Untuk posisi pemulihan, tempelkan telapak tangan kiri korban ke pipi sebelah kanan, dan tekuk kaki korban, kemudian tarik agar korban berbaring menghadap ke arah kanan dengan telapak tangan kirinya menjadi bantalan. Bisa dilakukan pada arah sebaliknya. Periksa napas setiap 2 menit, dan jika tidak bernapas, balikkan korban dan lakukan kompresi dada. Diharapkan kita mampu melakukan posisi sisi mantap/ posisi pemulihan (recovery position) ini dengan benar.


Penanganan Asma juga sangat penting untuk dikuasai. Asthma adalah penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan peningkatan respons bronkial serta obstruksi jalan napas. Asma bisa dipicu oleh hewan peliharaan, marah, stress, polusi, merokok, debu, udara dingin, serangga rumahan, serbuk sari, dan kelelahan. Tanda dan Gejala asma diantaranya batuk-batuk; napas pendek; sulit bernapas; nyeri dada; batuk malam hari; mengi; batuk, flu, dan demam; dan pengguna inhaler.


Pertolongan Pertama Asma dilakukan dengan menghentikan aktifitas, lalu duduk dan ambil napas pelan-pelan dengan stabil. Jauhi keramaian, dan tetap tenang, karena jika panik akan semakin memperparah serangan asma. Segera panggil bantuan medis (Emergency Call PTVI). Kita perlu membantu pasien untuk duduk tegak dengan nyaman, sambil melonggarkan pakaiannya agar tidak sesak. Tanyakan pencetus asma, dan jauhkan penderita dari pencetusnya. Pindahkan ke tempat yang lebih segar. Jika pasien memiliki obat asma seperti inhaler, bantu ia menggunakannya.


Penanganan Syok (Pingsan) juga merupakan keterampilan penting. Tanda-tanda syok (pingsan) diantaranya pucat, akral dingin; nadi cepat dan lemah; pernapasan cepat; rasa pusing seperti mau jatuh; mual; gelisah; haus; dan kesadaran menurun. Penyebab terjadinya syok bisa dikarenakan kegagalan memompa jantung; kehilangan darah dalam jumlah besar; atau pelebaran (dilatasi) pembuluh darah yang luas sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik. Untuk penanganan syok (pingsan), tempatkan kepala pasien lebih rendah dari kaki; longgarkan setiap ikatan yang ketat; tangani penyebabnya; jangan diberi makan atau minum; bawa ke Rumah Sakit.


Salah satu kejadian tak terduga yang berbahaya adalah choking atau tersedak, yaitu suatu keadaan dimana terdapat benda asing (bisa makanan, gigi palsu, dan lain-lain) di tenggorokan (saluran pernapasan). Ciri-ciri choking sebagian biasanya korban batuk, memegang leher, dan mengi (wheezing). Sedangkan jika choking total, korban tidak bisa bersuara/ tidak bisa batuk, memegangi leher, sampai tidak sadar.


Penanganan choking pada korban dewasa, pertama-pertama tanyakan apakah dia sedang tersedak, anjurkan untuk batuk, dan lakukan 5 kali black blows (menepuk punggung dengan tangan menelungkup) dan 5 kali abdominal thrust (Helmich Maneuver), yaitu melakukan dorongan perut dari belakang. Sedangkan untuk korban yang gemuk atau sedang hamil, lakukan 5 kali chest thrust, yaitu melakukan dorongan dada dari belakang. Jika korban tidak sadar, lakukan chest thrust dalam posisi korban terbaring, namun jangan lakukan abdominal thrust (Helmich Maneuver).Penanganan choking pada anak dengan melakukan 5x back blow dan 5 kali chest thrust atau bergantian.


Penanganan Luka dan Perdarahan pada prinsipnya dengan 3 T, yaitu Tutup, Tekan, dan Tinggikan. Luka atau perdarahan adalah hilangnya atau keluarnya darah dari pembuluh darah, bisa berupa perdarahan luar yang dapat terlihat oleh mata, atau perdarahan dalam yang tidak dapat terlihat oleh mata. JIka pendarahan terjadi di bagian vena, ditandai dengan darah yang keluar berwarna merah gelap dan merembes, maka penanganannya dengan menekan daerah luka langsung menggunakan kasa atau kain, kemudian tempatkan daerah luka lebih tinggi dari jantung. Perdarahan pada bagian arteri ditandai dengan darah yang keluar berwarna merah terang dan muncrat sesuai pompaan jantung. Cara penanganannya sama, ditambah gunakan torniquet arteri. Pemateri memberi contoh cara pengikatan sekitar 5 cm atau 2 jari dari luka, yang bisa diputar untuk melonggarkan dan mengencangkan, memakai penahan spidol.


Pada Luka Amputasi, penanganan bertujuan untuk menghentikan perdarahan dan melindungi bagian yang teramputasi dengan membungkusnya ke dalam plastik dan dimasukkan dalam kotak berisi es batu pendingin. Penanganan pada pasien dilakukan dengan menghentikan perdarahan dengan cara menekan langsung pada luka dan meninggikan daerah tersebut dari jantung. Tutup luka dengan kasa steril, jangan menggunakan pembalut terlalu tipis, balut dengan pembalut tekan. Penolong harus segera memanggil bantuan medis secepatnya. Teknik penghentian perdarahan dengan menggunakan tornikuet dapat diterapkan jika perdarahan sulit untuk dihentikan. Penanganan pada bagian yang diamputasi, segera masukkan potongan tubuh ke dalam plastik, jangan sampai plastik bocor, lalu masukkan es ke dalam plastik yang lain kemudian disatukan dengan plastik yang berisi bagian tubuh tersebut untuk pendinginan. DIngin akan membantu mempertahankan bagian tubuh tersebut. Jangan lupa menuliskan nama korban dan waktu kejadian pada bungkusan tersebut dan serahkan serta melaporkan kepada petugas medis. Jika penanganan cepat, beberapa korban dapat menyambungkan kembali bagian yang teramputasi.


Pada penanganan impaled object atau benda tertusuk, jangan mencabut benda yang menancap, namun hentikan pendarahan di sekitar benda yang menancap dengan membuat balutan donat.


Untuk patah tulang, bisa berupa patah tulang terbuka atau tertutup. Ciri-cirinya bengkak, terjadi perubahan bentuk, dan jika ditekan terasa sakit. Penanganan pada korban patah tulang, jangan digerakkan kecuali jika pembidaian atau spalk sudah terpasang. Lakukan penanganan medis lebih lanjut.
Selama pelatihan PPGD ini para guru dan pegawai Sekum YPS tak jarang meringis ngeri melihat beberapa kejadian pada gambar yang ditunjukkan. Namun banyak ilmu dan keterampilan berharga yang kami peroleh. Proses belajar ini juga menambah kesadaran untuk senantiasa berhati-hati dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap aktivitas kita serta memaksimalkan ikhtiar dalam menangani setiap kejadian dengan benar dan tepat, juga cepat. Untuk dapat melakukannya tentu memerlukan ilmu yang harus dipelajari dan dipraktekkan langsung. Kami mengucapkan terimakasih kepada HSOR Training and Competency – Health, Safety, and Operational Risk Department PT Vale Indonesia Tbk. atas terselenggaranya Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat ini di lingkungan Sekolah Umum YPS. Semoga kita semua senantiasa berada dalam rahmat dan lindungan-Nya.

Sekum YPS! Yesss!

KELUAR